Seolah menjadi ingin gelisah
dengan membuat tingkah yang harusnya
berjalan biasa saja menjadi beban di topik utama.
tak bisa disalahkan, dan tidak bisa dipungkiri
bahwa setiap yang tidak kita antisipasi dari awal bisa menjadi bom waktu yang ledakannnya mengagetkan.
Kita sama-sama tahu bahwa bermajas
dengan membentuk ruang tanpa ujung kadang begitu renyah di dengar hanya dengan berbicara satu arah,
begitu semrautnya pikiran sehingga apapun cerita,
ketika ada yang merasa dirinya paling sakit
karena seakan tertusuk hati,
maka perjalanan retorik akan berbanding lurus
dengan apa yang ada di depan mata.
Sayangnya, kita tidak bisa berkehendak lain selain menerima celotehan.
Selaku korban transisi kegalauan, kita hanya bisa menunggu waktu untuk sembuh dari luka, yang sebenarnya tak seharusnya menjadi luka.
semoga lekas sembuh, harapku satu, jangan menjadi egois dengan menceritakan hal yang tidak benar ke kanan kirimu.
Ruang tanpa kata
Written by Isya Andika
on 7:24 PM
in sajak melupakan, sajakbingung, Sajakhampa, sajakkhawatir, sajakmimpi, SajakSinis
with
No comments

0 komentar:
Post a Comment