Friday, March 13, 2020

Sudut Sepi, Rindu mengelabui


Di antara lampu-lampu temaram, mataku suram terlabui, 
angin memetik gitar disuarakannya gulana; 
rinduku purba dalam dekapan sepi tengah malam. 
Di rumah barumu; 
aku beku nisan batu serupa kamboja kering, 
kabur dalam hening, 
sapa rindu tak pernah mengering, 
aku tergeletak, 
dan aku hanya mampu mengamini do'a-do'aku sendiri.

Betapa senyap tak pernah lenyap,
lekuk senja mulai membungkuk,
memaksa malam menyiram gelap dan hitam,
hadirmu lengkap, nadi terjebak detak.






Share:

Monday, March 9, 2020

Ruang tanpa kata

Seolah menjadi ingin gelisah
dengan membuat tingkah yang harusnya
berjalan biasa saja menjadi beban di topik utama.

tak bisa disalahkan, dan tidak bisa dipungkiri
bahwa setiap yang tidak kita antisipasi dari awal bisa menjadi bom waktu yang ledakannnya mengagetkan.

Kita sama-sama tahu bahwa bermajas
dengan membentuk ruang tanpa ujung kadang begitu renyah di dengar hanya dengan berbicara satu arah,
begitu semrautnya pikiran sehingga apapun cerita,
ketika ada yang merasa dirinya paling sakit
karena seakan tertusuk hati,
maka perjalanan retorik akan berbanding lurus
dengan apa yang ada di depan mata.

Sayangnya, kita tidak bisa berkehendak lain selain menerima celotehan.

Selaku korban transisi kegalauan, kita hanya bisa menunggu waktu untuk sembuh dari luka, yang sebenarnya tak seharusnya menjadi luka.

semoga lekas sembuh, harapku satu, jangan menjadi egois dengan menceritakan hal yang tidak benar ke kanan kirimu.



Share:

Friday, January 10, 2020

Denem wan tubuh jantung


"Gere tergambar naku
Kune denem pekengkung wan tubuh jantung.
Bentuk e kadang peh teger, kadang peh lesu.
Ari kul ni ate, gere teperin aku kune langkahe si mugerutu mayo sawah ku mukmuk ni ulu.
Rasane gere tecegah aku
Dum dele e, dum kenake musarik sara sagi mumerin denem nge musapat sara kamul, engkip sara umah i buntul kemumu, unang-unang murara ilang teridah i hakim tungul naru.

Denem,
Gaehmu gere tejengkali aku.
Sarik sisu nume ken pesenen ike nge turah kite tetah langkah ku penghulu.

O denem,
Kao we turah kusapihi bier mutamas naru.
Sawahku entimi karu,
Si kerna sawahmu kujejontok buge kati mudemu.

O jarak,
Ku atas kite tangakan ku langit buge kati teratak mulempang susune,
Ku tuyuh kite murenung buge sawah si ken tunung,
Kusamping kite erah
Buge kadang muserah surak ni senye munyawah papah orom tuah.

Kao,
Denemku.

Share:

Wednesday, December 18, 2019

Kao wan denem

Si kerna jenta aku mulangkah ni kiding mudedik sisu,
kati buge die sawah cerak sepapah ken pediangte puren.
bier tujuen gaip ilen,
tapi rebah ni tungkukmu padih enti ken sengkat ni mataku.

Denemku nge mepat sara sagi,
ketier ni judu memang mejen pait mejen lungi
ari karena wujudmu si kukenaki kati
jarakmu kurasa dekat,
sikerna cerak nge i amat kati nguk siku murapat.

Kao wan denem.

gere tejengkali aku ike nge osop rasa,
gere tetatah aku ike lalemu nge ken putus asa.

kao wan denem.










Share:

Tuesday, December 10, 2019

“RINDU BERGEMURUH”


Tak tahu pasti kapan ia hadir terkahir kali. Wajah anggun itu terbayang dalam benak, tak mampu menghitung berapa kali ingatan terjebak diantara rindu yang terus saja ingin tak beranjak.

Bukan hal aneh jika ia kubiarkan saja mempengaruhi kepala
untuk terus berimajinasi seperti layangan yang merasa selalu terbang. Aku bahkan senang jika ia berterus terang untuk selalu bertemu tanpa harus menyatakan diri sebagai tamu. 

Rindu, kau bagaikan sayup lentur tubuh
yang sedang menari, mataku menatap tiada henti.
Gemulai wajah tampak asing namun seolah sering berjumpa
Ah rindu, kau membuatku malu atau bahkan
aku sudah tak sudi melirik perasaan yang lain.

Tampaknya aku telah lama jatuh hati 
pada selembar rindu yang membantu hati berdetak.
Rindu, kau menghidupkan angan masa depan,
denganmu, aku ingin menjadi setitik tunggu
yang tak lapuk di hujan tak lekang di panas.

Jika kali ini juga kau tak kunjung ingin menetap,
lalu rindu mana lagi yang bisa kuajak mendekat?.
jika titipan rindu ini juga kau tak bisa pegang erat,
maka perasaan mana lagi yang harus kurangkai untuk kuikat?.

Kau satu-satunya rasa yang yang bisa kucerna
dari kemuakanku menanam benih cinta yang ujung-ujung 
tersambar dari rasa sabar.
Kau anugrah yang tak pernah terencana, 
kau bisu yang mampu membuatku menyapa.
karena ia tidak untuk dipaksa. karena yakin,
Rindu adalah teori tertinggi dari cinta.















Share:

Wednesday, December 4, 2019

DENGANMU, KITA TUA BERSAMA

Pagi selalu punya cerita.
dengan lekukan rasa yang terus saja tak pernah bosan
menghentikan lega karena rindu yang mulai menerka.

Hela nafas yang tak ingin dikhianati muncul pelan-pelan.
ia hanya ingin sejalan dengan kepastian.

jika saja terus singgah pada hati yang berpotensi membuat kecewa
maka penyesalan bukan lagi yang asing.

terjalin atau tidak terjalin,
kita sama-sama tahu bentuk mana yang akan kita sentuh
untuk dijadikan akhir dari sebuah pencarian.

harapanku, bahkan mungkin harapan kita adalah itu.

Sungguh aku ingin menatap hari tua bersamamu.
ketika pagi adalah hal yang bukan sekedar soal berakhirnya malam
namun juga soal aku yang selalu menatapmu pertama kali tiap pagi.

ketika itu kau buatkan kopi, lalu aromanya sampai ketempat tidurku,
bayangkan saja, aku mulai berkhayal bak iklan tv.

ah sudahlah.

aku ingin dirimu menjadi bagian terakhir dari semua cerita yang pernah hancur berkeping-keping.



                                   
                               
                                           Minggu, 17 November 2019

                                           - dkds
Share:

Wednesday, October 23, 2019

Hilang


Kita seakan tabu menatap dalam-dalam arti rindu, 
namun seolah senang menjamu datangnya cemburu. 
tidak begitu jelas saat ini. 
Ada yang begitu gigihnya mencari ketenangan 
hancur pelan-pelan karena dangkalnya kolam 
yang ingin kurenangi di kepalamu.
batas ambigu begitu dekat denganku. 
Ia mulai menyapa halus tanpa memandang bahwa aku meragu. 
Ia memberikan nasehat yang khidmat,
menerangkan bahwa semua akan baik-baik saja. 


Tetap saja

Kau adalah bentuk dari ketidaksadaranku dalam memilih.
Aku salah dalam menerjemah, lelah dalam tingkah,
tak mampu melapal jejak yang selama ini kau injak. 

Wajah kusut itu mulai meraba tiap tikungan,
tak peduli seberapa jauh jalan ditempuh,
seberapa banyak pasrah yang tumbuh,
aku hanya ingin memulai seperti seharusnya. 

Selalu saja

Ada cerita yang berputar di meja diskusi. 
menelanjangi kabut-kabut tebal yang harusnya tak terlihat
menjadi hamburan tajam yang hampir saja menusuk tepat di jantung. 

Hampir.

Aku melihatnya tanpa rasa khawatir. 
karena itu memang indah sekali. 














Share:

Popular Posts

Tentang

"Nalar dan imajinasi yang dipengaruhi oleh kata-kata akan lebih menusuk jantung dari pada berdiam diri menatap luka. bahagia bila terlukiskan lewat alunan pena, jernih mengintip diksi yang bersembunyi dibalik meja. Dhksajak.blog hadir menemui titik tumpu mengajak luka menjadi canda, diam menjadi terbuka" Dhksajak hanya seorang yang biasa mengarahkan kata-kata dijalur yang mungkin agak berbeda. karena kita memang terlahir tak sama, namun pikiran kita bisa menyatu dengan cengkraman nyata dan seksama.