Friday, January 10, 2020

Denem wan tubuh jantung


"Gere tergambar naku
Kune denem pekengkung wan tubuh jantung.
Bentuk e kadang peh teger, kadang peh lesu.
Ari kul ni ate, gere teperin aku kune langkahe si mugerutu mayo sawah ku mukmuk ni ulu.
Rasane gere tecegah aku
Dum dele e, dum kenake musarik sara sagi mumerin denem nge musapat sara kamul, engkip sara umah i buntul kemumu, unang-unang murara ilang teridah i hakim tungul naru.

Denem,
Gaehmu gere tejengkali aku.
Sarik sisu nume ken pesenen ike nge turah kite tetah langkah ku penghulu.

O denem,
Kao we turah kusapihi bier mutamas naru.
Sawahku entimi karu,
Si kerna sawahmu kujejontok buge kati mudemu.

O jarak,
Ku atas kite tangakan ku langit buge kati teratak mulempang susune,
Ku tuyuh kite murenung buge sawah si ken tunung,
Kusamping kite erah
Buge kadang muserah surak ni senye munyawah papah orom tuah.

Kao,
Denemku.

Share:

Wednesday, December 18, 2019

Kao wan denem

Si kerna jenta aku mulangkah ni kiding mudedik sisu,
kati buge die sawah cerak sepapah ken pediangte puren.
bier tujuen gaip ilen,
tapi rebah ni tungkukmu padih enti ken sengkat ni mataku.

Denemku nge mepat sara sagi,
ketier ni judu memang mejen pait mejen lungi
ari karena wujudmu si kukenaki kati
jarakmu kurasa dekat,
sikerna cerak nge i amat kati nguk siku murapat.

Kao wan denem.

gere tejengkali aku ike nge osop rasa,
gere tetatah aku ike lalemu nge ken putus asa.

kao wan denem.










Share:

Tuesday, December 10, 2019

“RINDU BERGEMURUH”


Tak tahu pasti kapan ia hadir terkahir kali. Wajah anggun itu terbayang dalam benak, tak mampu menghitung berapa kali ingatan terjebak diantara rindu yang terus saja ingin tak beranjak.

Bukan hal aneh jika ia kubiarkan saja mempengaruhi kepala
untuk terus berimajinasi seperti layangan yang merasa selalu terbang. Aku bahkan senang jika ia berterus terang untuk selalu bertemu tanpa harus menyatakan diri sebagai tamu. 

Rindu, kau bagaikan sayup lentur tubuh
yang sedang menari, mataku menatap tiada henti.
Gemulai wajah tampak asing namun seolah sering berjumpa
Ah rindu, kau membuatku malu atau bahkan
aku sudah tak sudi melirik perasaan yang lain.

Tampaknya aku telah lama jatuh hati 
pada selembar rindu yang membantu hati berdetak.
Rindu, kau menghidupkan angan masa depan,
denganmu, aku ingin menjadi setitik tunggu
yang tak lapuk di hujan tak lekang di panas.

Jika kali ini juga kau tak kunjung ingin menetap,
lalu rindu mana lagi yang bisa kuajak mendekat?.
jika titipan rindu ini juga kau tak bisa pegang erat,
maka perasaan mana lagi yang harus kurangkai untuk kuikat?.

Kau satu-satunya rasa yang yang bisa kucerna
dari kemuakanku menanam benih cinta yang ujung-ujung 
tersambar dari rasa sabar.
Kau anugrah yang tak pernah terencana, 
kau bisu yang mampu membuatku menyapa.
karena ia tidak untuk dipaksa. karena yakin,
Rindu adalah teori tertinggi dari cinta.















Share:

Wednesday, December 4, 2019

DENGANMU, KITA TUA BERSAMA

Pagi selalu punya cerita.
dengan lekukan rasa yang terus saja tak pernah bosan
menghentikan lega karena rindu yang mulai menerka.

Hela nafas yang tak ingin dikhianati muncul pelan-pelan.
ia hanya ingin sejalan dengan kepastian.

jika saja terus singgah pada hati yang berpotensi membuat kecewa
maka penyesalan bukan lagi yang asing.

terjalin atau tidak terjalin,
kita sama-sama tahu bentuk mana yang akan kita sentuh
untuk dijadikan akhir dari sebuah pencarian.

harapanku, bahkan mungkin harapan kita adalah itu.

Sungguh aku ingin menatap hari tua bersamamu.
ketika pagi adalah hal yang bukan sekedar soal berakhirnya malam
namun juga soal aku yang selalu menatapmu pertama kali tiap pagi.

ketika itu kau buatkan kopi, lalu aromanya sampai ketempat tidurku,
bayangkan saja, aku mulai berkhayal bak iklan tv.

ah sudahlah.

aku ingin dirimu menjadi bagian terakhir dari semua cerita yang pernah hancur berkeping-keping.



                                   
                               
                                           Minggu, 17 November 2019

                                           - dkds
Share:

Saturday, October 26, 2019

Hina


Semakin merasa bodoh. Denting jari mengelupas saat kubahas hal yang tak pernah tuntas. Basa-basi yang membosankan kupikir. Menarik pelatuk agar jauh gravitasi mengantarkan peluru tepat di pusaran imajinasi, tapi aku nampaknya sudah terkunci di bab-bab yang membuatmu jengkel dan membosankan.  Betapa sulitnya bagiku memulai percakapan antar manusia yang saling berintraksi itu. Bentuk penghindaran yang sempurna selalu didapati, bahkan dalam wajar, selalu tersungkur saat mengejar setiap ejaan yang kau tarik ulur dalam nalar.

Aku tahu sedikit tidaknya mengapa beningmu ingin mengeruhi diri.
Atau kau ingin seikat tali lama yang telah usang itu kau sambung kembali, padahal aku ingin kau tahu persis bagaimana cerita itu begitu basi jika ku dengar lagi.


Sudahlah, masa lalu itu semu, jadikan ia perubahan yang bermutu.
Walaupun pada kenyataannya  aku ingin menghampirimu di fase terberat itu. Saat dimana kau mengurung diri dan memlilih tidak percaya dengan keindahan yang ditawarkan didepan mata sekalipun.
Aku akan menceritakan kisah yang kelam itu kepadamu.
Waktu itu keadaan begitu sempit, menutup mata dan telinga hingga ingin lari terbirit-birit dari batas kegelisahan yang memuakkan. Kau pasti pernah lihat bagaimana seekor kambing Qurban yang akan disembelih, ingin lari tapi di ikat, ingin melihat tapi mata di tutup, ingin teriak tapi tapi seolah tak ada yang mendengar, ingin ini, ingin itu, asalkan selamat dari tajamnya pisau yang ku sebut bernama waktu.
Segala upaya tak mampu mengubah arah jarum jam,
Selain membiarkannya berlalu dengan mengharapkan keberkahan.

Aku sangat merasa terhina sekali jika hatiku bisa mencintaimu saat ini.
Jika saja tak ada rambu-rambu untuk membuatku berhenti maka sungguh, aku akan mengatakan semuanya padamu.
Tentang hati yang tak bisa kukendalikan, tentang perasaan yang ingin lari dari kenyataan, lalu bersembunyi di balik meja serta meminum kopi buatanku sendiri.

Jujur, ingin sekali ku gapai mimpi indah bersamamu. Bukan karena kau telah menyelamatkanku dari kegelisaan itu, tapi kebenaran tetaplah kebenaran, bahwa aku sudah tak berada di tempat dimana rasa bisa diputar balik lagi.
dan kau akan selalu ingin kukenang.

Share:

Wednesday, October 23, 2019

Hilang


Kita seakan tabu menatap dalam-dalam arti rindu, 
namun seolah senang menjamu datangnya cemburu. 
tidak begitu jelas saat ini. 
Ada yang begitu gigihnya mencari ketenangan 
hancur pelan-pelan karena dangkalnya kolam 
yang ingin kurenangi di kepalamu.
batas ambigu begitu dekat denganku. 
Ia mulai menyapa halus tanpa memandang bahwa aku meragu. 
Ia memberikan nasehat yang khidmat,
menerangkan bahwa semua akan baik-baik saja. 


Tetap saja

Kau adalah bentuk dari ketidaksadaranku dalam memilih.
Aku salah dalam menerjemah, lelah dalam tingkah,
tak mampu melapal jejak yang selama ini kau injak. 

Wajah kusut itu mulai meraba tiap tikungan,
tak peduli seberapa jauh jalan ditempuh,
seberapa banyak pasrah yang tumbuh,
aku hanya ingin memulai seperti seharusnya. 

Selalu saja

Ada cerita yang berputar di meja diskusi. 
menelanjangi kabut-kabut tebal yang harusnya tak terlihat
menjadi hamburan tajam yang hampir saja menusuk tepat di jantung. 

Hampir.

Aku melihatnya tanpa rasa khawatir. 
karena itu memang indah sekali. 














Share:

Tuesday, July 23, 2019

Waktu Mengusirku


Tak habis pikir akan secepat ini meninggalkan 
langkah yang sedari dulu ku nanti-nanti.
terjebak oleh bingkai dalam tangkai, 
menjamu angan yang tak ingin singgah karena hati yang terus lihai menelantarkan sejarah. 

Kembali pulang begitu hal yang entah mengapa 
kuanggap sesuatu yang menyeramkan,
emosi meningkat tajam, lentur tubuh kembali melepuh pada bagian cerita yang terbayangkan akan rapuh. 

Aku seolah menolak untuk kembali, 
menghela napas panjang karena langkah yang terus terang mengajakku menerawangg jalan pulang, 
walaupun sebenarnya itu adalah sebuah tujuan.
kembali menata dari awal itu rasanya sangat disayangkan. 
Tapi satu sisi jika tetap kupertahanakan jalan ini maka seperti tak ada  harapan untukku hidup dalam angan yang terencana dengan matang, melainkan hanya terus bergerak pada tempat yang sama sekali tak berpindah.

Terlalu takut untuk memulai, 
karena hamburan persepsi dalam menanggapi 
begitu liar tanpa kendali. 
tak bisa dipungkiri ketika hilangnya esensi 
maka berubah juga pola pikir dalam tensi 
yang selama ini menjadi mimpi.

Namun ternyata tak selamanya yang diinginkan 
akan selalu tercapai, 
waktu yang cukup membuatku bersabar 
ini kian tak henti-hentinya melatih respon berambah,
pada sentuhan dan denting nalar 
yang mengajakku keluar dari zona nyaman. 

Ya anggap saja aku di zona itu sekarang. 
keterikatan waktu mengubah narasi selalu menuju ruang temu yang di sapa oleh rasa malu.
Enggan merasa langkah dibaca oleh keadaan, takut sumringah tak lagi bertutur bijak dan memelukku dengan erat.

Tak ada yang lain yang nyata saat ini selain rasa takutku. 
takut ketika alunan hujan tak lagi merayuku dalam sepi,
bahkan bayangankupun akan jauh ketika semua tak berarti.

Perjuangan yang selama ini dilakukan 
terasa sangat tak berguna oleh terpaan berbagai penolakan. 
begitu tajam lekukan jalan, begitu santai dan lunglai pencapaian mengajakku berteman, hingga kadang aku terlalu lelah untuk merayu dan menawarkan seribu usaha. 

Aku lelah dan ingin pasrah, tapi ada Angurah yang tetap bisa ku pegang teguh. 
rasa syukur itu mampu membuat jiwaku berteduh, pada sehelai daun yang selama ini menghalangi hujan membasahi mata. 

Akan ada waktunya bagi mereka yang terus berusaha.

dengan lambaian kosa kata yang membuat hati malu jika tidak bergerak, dan merengek seperti mau mati, 
maka dengarkan semangat dari mereka yang mampu memperbaiki diri.

"Kau menangis layaknya perempuan,
tapi kau tak pernah berjuang layaknya laki-laki".













                                                                                                            Jember, 29. Mei April 2019

                                          -Isya Andika                                                      










Share:

Popular Posts

Tentang

"Nalar dan imajinasi yang dipengaruhi oleh kata-kata akan lebih menusuk jantung dari pada berdiam diri menatap luka. bahagia bila terlukiskan lewat alunan pena, jernih mengintip diksi yang bersembunyi dibalik meja. Dhksajak.blog hadir menemui titik tumpu mengajak luka menjadi canda, diam menjadi terbuka" Dhksajak hanya seorang yang biasa mengarahkan kata-kata dijalur yang mungkin agak berbeda. karena kita memang terlahir tak sama, namun pikiran kita bisa menyatu dengan cengkraman nyata dan seksama.