Sunday, July 19, 2020

Teman Penghianat

Teman, kau belum layak dijadikan sahabat.
Teman, kau menagih caci pada muka yang kusut ini.
Teman, kau tak pernah menganggapku teman,
Sedangkan engkau sudah seperti bait-bait lagu yang siap menuju nada tinggi, keraguan hilang.

Kau begitu lihai menilai langkah,
Hingga kau lupa siapa diantara kita yang pasrah.
Teman, kau ternyata bukan teman.

Parah, aku terluka parah,
Kau cabik-cabik kegelisahanku
pada cangkir kopi yang kuseduh,
tertumpah.

Panas, panas sekali mataku,
Menahan agar tak begitu tinggi nada bicaraku.
Sementara kau leluasa menambah garam
di akhir-akhir tegukan kopi manisku.
Kejam.

Share:

Friday, June 19, 2020

Penggenap separuh agamaku


Padamu kukultuskan rasa yg amat dalam
hingga pori-pori kerinduanku tenggelam, 
Padamu juga wahai calon pendamping hidup,
ku penggalkan do'a berkah untuk cinta yang tak redup. 

Untukmu wahai cintaku, 
Untukmu wahai penggenap separuh agamaku.

denganmu, jiwaku ingin menuju bahagia,
padamu kusebut rasa sebagai anugrah.
sekejap mata tak rela membiarkanmu hilang dipandang,
sekilas rindu tak sanggup membiarkanmu lepas dalam ingatan.


kurantaikan niat
kubalut selimut, 
kusambut kegelisahan yang baru pulang menemui rindu,
membiarkan golombang pasang membenahi ikatan yang amat dinanti.




- Isya Andika


Share:

Thursday, June 18, 2020

Kusebut (Engkau) Cinta


"Kusebut (Engkau) Cinta"
Karya : Awalludin Ishak Dewa


"Rangkaian malam membisu...
Ratap angin melancong sepi
aliran cinta lalui lembah
pasak kecanduan belah duka 

kita tidur di terotoar kebebasan
suara nyaring tong sampah
di erserak-serak kegelisahan
lampui gaduh pemalsu hening 

lalu diseret angin pada risau penejelaja cinta.
Hingga pagi tetap mengayuh ke dermaga rindu,
menyeruak dalam kisah hampir punah, 

Kusebut Engkau Cinta. Belukar kepalaku melemah, 
lalu kita berlayar di genangan duka,
dalam golombang pekat tak mungkin untuk goyah
dalam nafas gelisah kusambut kisah indah..."




Share:

Friday, March 13, 2020

Sudut Sepi, Rindu mengelabui


Di antara lampu-lampu temaram, mataku suram terlabui, 
angin memetik gitar disuarakannya gulana; 
rinduku purba dalam dekapan sepi tengah malam. 
Di rumah barumu; 
aku beku nisan batu serupa kamboja kering, 
kabur dalam hening, 
sapa rindu tak pernah mengering, 
aku tergeletak, 
dan aku hanya mampu mengamini do'a-do'aku sendiri.

Betapa senyap tak pernah lenyap,
lekuk senja mulai membungkuk,
memaksa malam menyiram gelap dan hitam,
hadirmu lengkap, nadi terjebak detak.






Share:

Monday, March 9, 2020

Ruang tanpa kata

Seolah menjadi ingin gelisah
dengan membuat tingkah yang harusnya
berjalan biasa saja menjadi beban di topik utama.

tak bisa disalahkan, dan tidak bisa dipungkiri
bahwa setiap yang tidak kita antisipasi dari awal bisa menjadi bom waktu yang ledakannnya mengagetkan.

Kita sama-sama tahu bahwa bermajas
dengan membentuk ruang tanpa ujung kadang begitu renyah di dengar hanya dengan berbicara satu arah,
begitu semrautnya pikiran sehingga apapun cerita,
ketika ada yang merasa dirinya paling sakit
karena seakan tertusuk hati,
maka perjalanan retorik akan berbanding lurus
dengan apa yang ada di depan mata.

Sayangnya, kita tidak bisa berkehendak lain selain menerima celotehan.

Selaku korban transisi kegalauan, kita hanya bisa menunggu waktu untuk sembuh dari luka, yang sebenarnya tak seharusnya menjadi luka.

semoga lekas sembuh, harapku satu, jangan menjadi egois dengan menceritakan hal yang tidak benar ke kanan kirimu.



Share:

Friday, January 10, 2020

Denem wan tubuh jantung


"Gere tergambar naku
Kune denem pekengkung wan tubuh jantung.
Bentuk e kadang peh teger, kadang peh lesu.
Ari kul ni ate, gere teperin aku kune langkahe si mugerutu mayo sawah ku mukmuk ni ulu.
Rasane gere tecegah aku
Dum dele e, dum kenake musarik sara sagi mumerin denem nge musapat sara kamul, engkip sara umah i buntul kemumu, unang-unang murara ilang teridah i hakim tungul naru.

Denem,
Gaehmu gere tejengkali aku.
Sarik sisu nume ken pesenen ike nge turah kite tetah langkah ku penghulu.

O denem,
Kao we turah kusapihi bier mutamas naru.
Sawahku entimi karu,
Si kerna sawahmu kujejontok buge kati mudemu.

O jarak,
Ku atas kite tangakan ku langit buge kati teratak mulempang susune,
Ku tuyuh kite murenung buge sawah si ken tunung,
Kusamping kite erah
Buge kadang muserah surak ni senye munyawah papah orom tuah.

Kao,
Denemku.

Share:

Wednesday, December 18, 2019

Kao wan denem

Si kerna jenta aku mulangkah ni kiding mudedik sisu,
kati buge die sawah cerak sepapah ken pediangte puren.
bier tujuen gaip ilen,
tapi rebah ni tungkukmu padih enti ken sengkat ni mataku.

Denemku nge mepat sara sagi,
ketier ni judu memang mejen pait mejen lungi
ari karena wujudmu si kukenaki kati
jarakmu kurasa dekat,
sikerna cerak nge i amat kati nguk siku murapat.

Kao wan denem.

gere tejengkali aku ike nge osop rasa,
gere tetatah aku ike lalemu nge ken putus asa.

kao wan denem.


- Isya Andika









Share:

Popular Posts

Tentang

"Nalar dan imajinasi yang dipengaruhi oleh kata-kata akan lebih menusuk jantung dari pada berdiam diri menatap luka. bahagia bila terlukiskan lewat alunan pena, jernih mengintip diksi yang bersembunyi dibalik meja. Dhksajak.blog hadir menemui titik tumpu mengajak luka menjadi canda, diam menjadi terbuka" Dhksajak hanya seorang yang biasa mengarahkan kata-kata dijalur yang mungkin agak berbeda. karena kita memang terlahir tak sama, namun pikiran kita bisa menyatu dengan cengkraman nyata dan seksama.