
yang merangkulmu dalam sesak.
terisak-isak wajah tangismu melukaiku
dengan menanti kedatanganmu dalam sejak.
kau wajah yang tuli akan senyum,
menyulam tangkai yang tak bisa kau rangkai.
sanubari tersesat oleh selimut buram
yang membuat nantiku menjadi kelam.
kelemut rindu yang kususun rapi
kau tumpahkan aroma tak sedap dengan ingkar janji,
jauhmu menyuluhi dahiku dengan air mata
yang tak segan sesekali menyesakkan rongga.
Kau sungguh palsu adinda,
sejukmu ternyata hangatnya kotoran ayam dalam bejana.
kau menipu hati yang sedang senang melihat bulan purnama,
lalu bak kau jatuhkan talak tiga pada pasangan yang baru saja menikah.
kau sedap dalam angan, sekaligus
kau adalah ludah yang tertunda keluar.
nyalimu kotor, tertukar dengan ampas kopi yang ku minum
kau muslihat yang nyata.
lalu tingkat sadarku mengubah arah,
bisikan tajam tanpa lirih mendengungku
"kau layak ku tinggal dalam sejak".
0 komentar:
Post a Comment